Rabu, 21 Maret 2012

RAHASIA BOROBUDUR




Berdasarkan atas tulisan yang terdapat pada “kaki” tertutup dari Candi Borobudur yang
berbentuk huruf Jawa kuno yang berasal dari huruf pallawa, maka dapat diperkirakan
tahun berdirinya Candi tersebut, yaitu pada tahun 850 Masehi, pada waktu pulau Jawa
dikuasai oleh keluarga raja-raja Sailendra antara tahun 832-900. Jadi umurnya sudah
lebih dari 1.000 tahun.Candi itu terdiri dari 2 juta bongkah batu, sebagian merupakan
dinding-dinding berupa relief yang mengisahkan ajaran Mahayana. Candi tersebut
berukuran sisi-sisinya 123 meter, sedang tingginya termasuk puncak stupa yang sudah
tidak ada karena disambar petir 42 m. Yang ada sekarang tingginya 31,5 m. Pada
hakekatnya Borobudur itu berbentuk stupa, yaitu bangunan suci agama Buddha yang
dalam bentuk aslinya merupakan kubah (separoh bola) yang berdiri atas alas dasar dan
diberi payung di atasnya.

Candi itu mempunyai 9 tingkat, yaitu : 6 tingkat di bawah,: "tiap sisinya agak menonjol
berliku-liku, sehingga memberi kesan bersudut banyak. 3 tingkat diatasnya:'' berbentuk
lingkaran. Dan yang paling atas yang disebut sebagai tingkat ke-10 adalah stupa besar
ukuran diametrnya 9,90 m, tinggi 7 m.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang yang dulunya dipakai sebagai tempat memuja
seperti candi-candi lainnya. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan
sempit, kedua tepinya dibatasi oleh dinding candi, mengelilingi candi tingkat demi
tingkat.
Dari satu tingkat lainnya di empat penjuru terdapat pintu gerbang masuk ke tingkat
lainnya melalui tangga. Di lorong-lorong inilah para umat Buddha diperkirakan
melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Upacara itu disebut
pradaksima
Sejarawan Belanda Dr. J.G. Casparis dalam desertasinya untuk mendapat gelar doctor
pada tahun. 1950 mengemukakan, bahwa Borobudur yang bertingkat 10 menggambarkan
secara jelas terlihat filsafat agama Buddha Mahayana yang disebut
“Dasabodhisatwabhumi”.

Filsafat itu mengajarkan, bahwa setiap orang yang ingin mencapai tingkat kedudukan
sebagai Buddha harus melampaui 10 tingkatan Bodhisatwa. Apabila telah melampaui 10
tingkat itu, maka manusia akan mencapai kesempurnaan dan menjadi seorang Buddha.
Perlu diketahui, bahwa menurut ajaran Buddha Mahaya, diamping Buddha Gautama yang
kita kenal dalam sejarah, ada pula tokoh-tokoh Buddha lain-lainnya, masing-masing
menurut jamannya, baik di jaman lampau maupun di jaman yang akan datang. Buddha di
masa datang kini masih berada di dalam sorga dan masih bertingkat Bodhisatwa adalah
calon Buddha di masa datang.

Dr. J. G. Casparis berpendapat, bahwa sebenarnya Borobudur merupakan tempat
pemujaan nenek moyang raja-raja Sailendra, agar nenek moyang mencapai ke-Buddhaan.
Sepuluh tingkat Borobudur itu juga melambangkan, bahwa nenek moyang raja Sailendra
yang mendirikan Borobudur itu berjumlah 10 orang. Berdasarkan prasasti Karangtengah
bertahun 824 M dan prasati Kahulunan bertahun 824 M. Dr. J.G. Casparis berpendapat
bahwa pendiri Borobudur adalah raja Sailendra bernama Samaratungga, kira-kira
disekitar tahun 824. Bangunan raksasa itu kiranya baru dapat diselesaikan oleh puterinya
yaitu Ratu Pramodawardhani.
Dalam hal tersebut para ahli belum terdapat kata sepakat.
Tingkatan –Tingkatan Borobudur
Pada tahun 1929 Prof. Dr. W.F. Stutterheim telah mengemukakan teorinya, bahwa Candi
Borobudur itu hakekatnya merupakan “tiruan” dari alam semsta yang menurut ajaran
Buddha terdiri atas 3 bagian besar, yaitu: (1). Kamadhatu; (2). Rupadhatu; dan (3).
Arupadhatu.

Bagian “kaki” melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama
atau nafsu (keinginan) yang rendah, yaitu dunia manusia biasa seperti dunia kita ini.
Rupadhatu, yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari ikatan nafsu, tetapi
maish terikat oleh rupa dan bentuk, yaitu dunianya orang suci dan merupakan “alam
antara” yang memisahkan “alam bawah” (kamadhatu) dengan “alam atas” (arupadhatu).
Arupadhatu, yaitu “alam atas” atau nirwana, tempat para Buddha bersemayam, dimana
kebebasan mutlak telah tercapai, bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan
rupa. Karena itu bagian Arupadhatu itu digambarkan polos, tidak ber-relief.
Patung-patung Dhayani Buddha

Pada bagian Rupadhatu patung Dhayani Buddha digambarkan terbuka, ditempatka di
lubang dinding seperti di jendela terbuka. Tetapi dibagian Arupadhatu patung-patung itu
ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti didalam kurungan.
Dari luar masih tampak patung-patung itu samar-samar.
Cara penempatan patung seperti tersebut rupanya dimaksudkan oelh penciptanya untuk
melukiskan wujud samar-samar “antara ada dan tiada” sebagai suatu peralihan makna
antra Rupadhatu dan Arupadhatu.

Arupa yang artinya tidak berupa atau tidak berwujud sepenuhnya baru tercapai pada
puncak dan pusat candi itu yaitu stupa terbesar dan tertinggi yang digambarkan polos
(tanpa lubang-lubang), sehingga patung didalamnya sama sekali tidak tampak.
Stupa-stupa kurungan patung-patung di bagian Arupadhatu yang bawah bergaris miring,
sedang lubang-lubang seperti yang diatasnya bergaris tegak.
Menurut almarhum Prof. Dr. Sucipta Wirjosaputro lubang-lubang seperti tersebut
merupakan lambang tentang proses tingkat-tingkat lenyapnya sisa nafsu yang terakhir.
Lubang-lubang yang bergaris miring (lebih rendah dari lainnya) menggambarkan, bahwa
di tingkat itu masih ada sisa-sisa dari nafsu, sedang pada tingkat di atasnya yang bergaris
tegak menggambarkan nafsu itu telah terkikis habis, dan hati pun telah lurus.
Reliefnya panjang 3 km; arcanya 505 buah .Relief pada dinding-dinding candi Borobudur
itu menurut Drs. Moehkardi dalam intisari jumlahnya ada 1460 adegan, sedang relief
yang dekoratief (hiasan) ada 1212 buah. Panjang relief itu kalau disambung-sambung
seluruhnya dapat mencapai 2.900 m, jadi hampir 3 km.
Jumlah arcanya ada 505 buah, terdiri dari : -Tingkat ke-1 Rupadhatu ditempat arca-arca
Manushi Budha sebanyak 92 buah; -Tiga tingkat selebihnya masing-masing mempunyai
92 buah arca Dhyani Buddha; -Tingkat di atasnya mempunyai 64 arca Dhyani Buddha.
Selanjutnya di tingkat Arupadhatu terdapat pula arca-arca Dhyani Buddha yang dikurung
dalam stupa, masing-masing tingkat sebanyak : 32, 24 dan 16 jumlah 72 buah.
Akhirnya di stupa induk paling atas, dahulunya terdapat pula sebuah patung Sang Adhi
Buddha, yaitu Buddha tertinggi dalam agama Buddha Mahaya. Maka julah seluruhnya
adalah 3 x 92 buah jumlah 432 + 64 + 1 = 505 buah.
Permainan angka yang mengagumkan.

Drs. Moehkardi mengemukakan adanya permainan angka dalam Candi Borobudur yang
amat mengagumkan, sebagai berikut :
Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26
yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8.
Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10
cm. Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula
dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m.
Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan angka-angkanya akan berakhir
menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat
ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha.
Perhatikan bukti-buktinya dibawah ini :
Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya
: 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada patung-patungnya ada : 32
+ 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10.
Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka
didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.
Sang Adhi Buddha dalam agama Buddha Mahaya tidak saja dianggap sebagai Buddha
tertinggi, tetapi juga dianggap sebagai Asal dari segala Asal, dan juga asal dari keenam
Dhyani Buddha, karenanya ia disebut sebagai “Yang Maha Esa”.
Demikianlah keindahan Borobudur sebagai yang terlihat dan yang terasakan,
mengandung filsafat tinggi seperti yang tersimpan dalam sanubari bangsa Timur,
khususnya bangsa kita.

Penemuan Borubudur



Tidak pernah terlintas oleh Pemerintah Hindia Belanda bahwa suatu ketika Nusantara ini
akan dikuasai oleh Inggris. Gubernur Jenderal yang mengurusi masalah tanah jajahan di
Timur, Lord Minto harus mendelegasikan kekuasaan di Nusantara ini kepada Letnan
Gubernur Jendral Sir Thomas Stamford Raffles. Raffles mempunyai perhatian yang
sangat besar terhadap budaya timur, sehingga ketika pada tahun 1814 mendapat laporan
tentang ditemukannya reruntuhan yang diperkirakan candi, segera mengutus perwira zeni
HC Cornelius untuk ke Bumi Segoro. Itulah awal diketemukannya Borobudur yang
terpendam entah sejak kapan dan apa penyebabnya. Misteri yang sampai kini belum
terungkap.
Sayang, tahun 1815 Inggris harus angkat kaki dan mengembalikan tanah jajahan kepada
Belanda. Bagi Belanda, peninggalan sejarah juga tidak kurang menariknya. Pada 1834
Residen Kedu bernama Hartman yang baru dua tahun menduduki jabatan mengusahakan
pembersihan Borobudur. Stupa yang ternyata puncak candi diketahui sudah menganga
sejak ditangani Cornelius 20 tahun sebelumnya..
Selama kurun waktu 20 tahun itu tidak ada yang bertanggung jawab terhadap kawasan
penemuan. Pada tahun 1842 Hartman melakukan penelitian pada stupa induk. Dalam
budaya agama Buddha, stupa didirikan untuk menyimpan relik Buddha atau relik para
siswa Buddha yang telah mencapai kesucian. Dalam bahasa agama, relik disebut saririka
dhatu, diambil dari sisa jasmani yang berupa kristal selesai dilaksanakan kremasi. Bila
belum mencapai kesucian, sisa jasmani tidak berbentuk kristal dan tidak diambil. Bila
berupa kristal akan diambil dan ditempatkan di dalam stupa. Diyakini bahwa relik ini
mempunyai getaran suci yang mengarahkan pada perbuatan baik. Pada setiap upacara
Waisak, relik ini juga dibawa dalam prosesi dari Mendut ke Borobudur untuk
ditempatkan pada altar utama di Pelataran Barat. Relik yang seharusnya berada di dalam
stupa induk Borobudur hingga kini tidak diketahui siapa yang mengambil dan di mana
disimpan.
Demikianlah, Borobudur yang ditemukan pada tahun 1814 mulai ditangani di bawah
perintah Hartman antara lain dengan mendatangkan fotografer, pada tahun 1845 bernama
Schaefer, namun hasilnya tidak memuaskan. Itulah sebabnya pada tahun 1849 diambil
keputusan untuk menggambar saja bangunan Borobudur. Tugas mana dipercayakan pada
FC Wilsen yang berhasilkan menyelesaikan 476 gambar dalam waktu 4 tahun. Ada
seorang lagi yang ditugaskan untuk membuat uraian tentang Borobudur yang masih
berupa duga-duga, yaitu Brumund. Hasil Wilson maupun Brumund diserahkan oleh
Pemerintah Hindia Belanda kepada Leemans pada 1853 yang baru berhasil
menyelesaikannya pada 1873 . Selama penggarapan gambar yang duga-duga itu, oleh
Hartman Borobudur dijadikan tempat rekreasi. Pada puncaknya didirikan bangunan untuk
melihat keindahan alam sambil minum teh. Pembersihan batu-batuan terus berlangsung,
ditempel-tempel asal jadi menurut dugaan asal-asalan saja.

Anugerah untuk Raja



Borobudur dibersihkan dari hari ke hari, hingga makin menarik. Sungguh fantastis bagi
para penguasa Belanda menikmati pemandangan indah di atas bangunan kuno yang
sedemikian besar.
Pada tahun 1896, Raja Thai, Chulalongkorn datang ke Hindia Belanda. Sebagai penganut
agama Buddha tentu tidak akan melewatkan untuk menyaksikan bangunan stupa yang
didengung-dengungkan oleh para pejabat pemerintah kolonial. Entah bagaimana
ceriteranya, Pemerintah Belanda menawarkan Raja untuk membawa bagian dari batu-
batuan Borobudur. Menurut catatan tidak kurang dari 8 gerobak melalui Pelabuhan
Tanjung Emas Semarang. Diantara yang diangkut ke Negara Gajah Putih tersebut ada 30
lempeng relief dinding candi, 5 buah patung Buddha, 2 patung singa dan 1 pancuran
makara.
Bilamana kita berada di istana Raja Bhumibol Adulyagej kita dapat saksikan batu-batuan
Borobudur yang terawat baik hingga kini. Sebagai negara yang sebagian besar menganut
Buddha, rakyat menyampaikan hormat dihadapan patung Buddha asal Borobudur
sebagai lambang kebesaran Gurunya.
Jadi, jauh sebelum batu-batuan Borobudur ditempatkan sebagaimana mestinya, bagian
dari batu-batuan yang berada dalam istana dynasti Cakri telah diperlakukan dengan baik,
karena keluarga raja di sana mengerti simbol-simbol yang terkandung dalam bagian kecil
peninggalan agama yang dianutnya.

Pemugaran


Pada tahun 1882 ada usul untuk membongkar seluruh batu-batuan Borobudur untuk
ditempatkan dalam suatu museum. Usul ini tidak disetujui, bahkan mendorong usaha
untuk membangun kembali reruntuhan hingga berbentuk candi. Dorongan lain untuk
lebih membuka tabir misteri dalah diketemukannya satu lantai lagi dibawah lantai
pertama candi oleh Vzerman pada 1885.
Pada tahun 1900 dibentuklah Panitia Khusus perencanaan pemugaran Candi Borobudur.
Setelah bekerja dua tahun, maka Panitia menyimpulkan bahwa tiga hal yang perlu
diperhatikan dalam pemugaran yaitu:

Pertama


: segera diusahakan penaggulangan bahaya runtuh yang sudah mendesak
dengan cara memperkokoh sudut-sudut bangunan, menegakkan kembali dinding-dinding
yang miring pada tingkat pertama, memperbaiki gapura-gapura, relung serta stupa,
termasuk stupa induk.
Kedua
: mengekalkan keadaan yang sudah diperbaiki dengan cara mengadakan
pengawasan yang ketat dan tepat, menyempurnakan saluran air dengan jalan
memperbaiki lantai-lantai serta lorong-lorong.
Ketiga
: menampilkan candi dalam keadaan bersih dan utuh dengan jalan
menyingkirkan semua batu-batuan yang lepas untuk dipasang kembali serta
menyingkirkan semua bangunan tambahan.
Pada tahun 1905 keluarlah Keputusan Pemerintah Kerajaan Belanda yang menyetujui
usul Panitia dengan penyediaan dana sebesar 48.800 gulden untuk menunjuk Insinyur
zeni T.van Erp.
Pemugaran dimulai pada Agustus 1907 yang berhasil diselesaikan pada tahun 1911.
Dengan demikian, Borobudur dapat dinikmati keindahannya secara utuh.
Setelah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1948 Pemerintah RI yang masih dalam
penataan negara memperhatikan kerusakan Borobudur yang sudah diketahui sejak 1929
dengan mendatangkan dua orang ahli purbakala dari India. Sayang usaha ini tidak ada
kelanjutannya. Pada tahun 1955 pemerintah RI mengajukan permintaan bantuan kepada
Unesco untuk menyelamatkan berbagai candi di Jawa, tidak terkecuali Borobudur .
Usaha lebih mantap baru dimulai pada tahun 1960 yang terhenti karena pemberontakan
G.30.S/PKI ketika bangsa dan negara mengkonsentrasikan diri menyelematkan masa
depan yang hampir saja dikoyak komunis.
Pemugaran candi secara serius baru terlaksana pada masa Orde Baru, melalui SK
Presiden RI No.217 tahun 1968 tanggal 4 Juli 1968 dibentuk Panitia Nasional yang
bertugas mengumpulkan dana dan melaksanakan pemugaran. Tahun berikutnya Presiden
membubarkan Panitia tersebut dan membebankan tugas pemugaran kepada Menteri
Perhubungan.
Tahun 1973 diresmikan permulaan pemugaran yang selesai pada tanggal 23 Februari
1983. Usaha penyelamatan ini adalah yang paling mantap dalam sejarah perawatan
Borobudur .

Tiga Serangkai


Kapan Borobudur didirikan secara pasti belum ditemukan datanya. Dari Prasasti
Karangtengah bertahun 824 M maupun Prasasti Sri Kahulungan bertahun 842
menyebutkan bahwa ada tiga buah candi yang didirikan untuk mengagungkan kebesaran
Buddha, yaitu Mendut, Pawon dan Borobudur.
Bangunan yang dimaksud adalah Candi Mendut yang didirikan oleh Pramudyawardani,
Candi Pawon yang didirikan oleh oleh Indra dan Borobudur yang didirikan oleh raja
kondang dynasti Syailendra bernama Smaratungga. Enatah yang mana lebih dahulu
didirikan, yang jelas ketiganya mempunyai makna tersendiri dan mempunyai keterikatan
yang satu dengan yang lainnya.
Dari relief yang ada, Candi Mendhut didirikan untuk memperingati khotbah pertama
Sang Buddha. Pada dinding itu jelas ditawarkan alternatif yang boleh dipilih oleh
pengikut Sang Buddha, yaitu hidup meninggalkan keduniawian sebagai bhikkhu
(pertapa) atau hidup dalam keduniawian demi kesejahteraan sesama menampilkan
kemakmuran bagi bangsa dan negara. Buddha mengajarkan pemilihan termaksud dengan
konsekwensi yang pasti dan jelas. Untuk mengetahui lebih mendalam tentang kehidupan
hingga tercapainya Nibbana (Nirvana), maka di Borobudur dijelaskan secara rinci, dari
kehidupan penuh nafsu, melalui kelahiran demi kelahiran baik dalam alam binatang, alam
dewa atau pun alam manusia hingga akhirnya tidak ada kelahiran lagi yang dinamakan
Nibbana itu.
Tetapi untuk mengetahui lebih mendalam akan makna yang tercantum pada dinding
Borobudur, batin kita hendaknya dimatangkan dulu di Candi Pawon. Demikianlah makna
perjalan ziarah agama Buddha menuju Borobudur.
Dari Mendhut, menyinggahi Pawon menuju Borobudur, bukannya sebaliknya dari yang
termegah menuju awal mencari dharma. Ini juga dapat digambarkan kehidupan kita,
mula-mula mencari pegangan hidup, memilih diantara alternatif yang tersedia kemudian
melalui pendadaran yang penuh sepi dan keprihatinan untuk mencapai kejayaan.
Ketiganya terletak pada satu garis lurus dari timur menuju barat.

Relief Borobudur


Bilamana kita ingin “membaca” semua relief yang ada pada dinding Candi Borobudur,
kita harus mulai dari Gapura Timur. Pada lantai pertama, segera membelok ke kiri
berjalan searah jarum jam yang disebut “pradaksina”. Sebagai relief pertama dilukiskan
ketika Sang Bodhisatta (Bodhisatva) berada di sorga Tusita, dihantar oleh dewa ketika
akan lahir sebagai manusia. Barulah pada dinding ke 13 dilukiskan ketika Permaisuri
Maya bermimpi seekor gajah masuk ke dalam rahimnya sebagai pertanda akan
melahirkan putra mahkota pada usia lanjut.
Mengelilingi dinding pertama hingga pada ujung Gapura Timur lagi dilukiskan ketika
Sang Buddha membabarkan dhamma (dharma) untuk pertama kali dihadapan lima orang
pertapa di Taman Isipatana. Kisah kehidupan ini disebut Lilitavistatara.
Membaca relief lantai kedua sampai dengan lantai keempat secara pradaksina dapat
disaksikan penggambaran ketiga Sang Bodhisatta tumimbal lahir sebelum kelahirannya
yang teakhir sebagai manusia Siddhattha (Siddhartha). Himpunan cerita ini ada yang
melukiskan ketika hidup sebagai kelinci, gajah, manusia bahkan dewa. Cerita ini diambil
dari kitab kelima dari Sutta Pitaka, bagian dari Khudaka Nikaya yang disebut Jataka.
Cerita dari Jataka ini sangat disukai oleh anak-anak beragama Buddha, dan
menjadikannya berkeyakinan akan adanya tumimbal lahir sebelum tercapainya Nibbana.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Kalau empat lantai
sebelumnya berbentuk bujursangkar, tiga lantai tanpa relief yang disebut Arupa-Datu
berbentuk lingkaran. Bagian kesembilan adalah stupa induk.
Masih ada lagi satu lantai basement (bawah tanah) yang hanya dibuka sedikit, disebut
Kama-Datu, menggambarkan memenuhan nafsu. Empat lantai berrelief oleh ahli sejarah
disebut Rupa-Datu. Itulah sebabnya Borobudur disebut juga “ bangunan suci sepuluh
tingkat”. Bagi penggemar sejarah, Borobudur tidak mungkin disaksikan sekali, dua kali
bahkan sepuluh kali. Ditelusuri seribu kalipun Borobudur tidak habis-habisnya bercerita.
Pancaran Borobudur menembus batas waktu yang mengarungi abad demi abad
memancarkan misi yang mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Borobudur
bagaikan mutiara yang memancarkan sinar keagungannya sepanjang masa.

Selasa, 20 Maret 2012

Peradaban sebelum atlantis

Mungkin sebagian teman-teman sudah banyak mendengar kisah tentang Atlantis,kalau
kisah Lemuria pernah belum?Kalau belum,ada baiknya kita menyimak sekelumit kisah
yang aq uraikan di bawah ini,semoga bermanfaat.
Oh iya,artikel dibawah aq tulis hanya mengacu pada satu versi saja,sedangkan versi
mengenai kisah dari Lemuria sendiri sangatlah banyak,jadi jangan bingung apabila kisah
yang aq uraikan dibawah sedikit berbeda kisah dengan versi yang mungkin teman-teman
pernah baca sebelumnya.
Lemuria/Mu
Lemuria/Mu merupakan peradaban kuno yg muncul terlebih dahulu sebelum peradaban
Atlantis. Para peneliti menempatkan era peradaban Lemuria disekitar periode 75000 SM -
11000 SM. Jika kita lihat dari periode itu,Bangsa Atlantis dan Lemuria seharusnya
pernah hidup bersama selama ribuan tahun lamanya.
Gagasan Benua Lemuria terlebih dahulu eksis dibanding peradaban Atlantis dan Mesir
Kuno dapat kita peroleh penjelasannya dari sebuah karya Augustus Le Plongeon (1826-
1908),seorang peneliti dan penulis pada abad ke -19 yang mengadakan penelitian
terhadap situs2 purbakala peninggalan Bangsa Maya di Yucatan. Informasi tsb diperoleh
setelah keberhasilannya menterjemahkan beberapa lembaran catatan kuno peninggalan
Bangsa Maya.
Dari hasil terjemahan,diperoleh beberapa informasi yang menunjukkan hasil bahwa
Bangsa Lemuria memang berusia lebih tua daripada peradaban nenek moyang mereka
(Atlantis). Namun dikatakan juga,bahwa mereka pernah hidup dalam periode waktu yang
sama, sebelum kemudian sebuah bencana gempa bumi dan air bah dasyat meluluh
lantahkan dan menenggelamkan kedua peradaban maju masa silam tersebut.
Hingga saat ini,letak dari Benua Lemuria pada masa silam masih menjadi sebuah
kontroversi,namun berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan
oleh para peneliti,kemungkinan besar peradaban tsb berlokasi di Samudera Pasifik
(disekitar Indonesia sekarang).
Banyak arkeolog memepercayai bahwa Easter Island yang misterius itu merupakan
bagian dari Benua Lemuria.Hal ini jika dipandang dari ratusan patung batu kolosal yang
mengitari pulau dan beberapa catatan kuno yang terukir pada beberapa artifak yang
mengacu pada bekas-bekas peninggalan peradaban maju pada masa silam.(artikel Easter
Island juga dapat dibaca di blog ini)
Mitologi turun temurun para suku Maori dan Samoa yang menetap dipulau-pulau
disekitar Samudera Pasifik juga menyebutkan bahwa dahlulu kala pernah ada sebuah
daratan besar besar di Pasifik yang yang hancur diterjang oleh gelombang pasang air laut
dasyat (tsunami),namun sebelumnya bangsa mereka telah hancur terlebih dahulu akibat
peperangan.

Keadaan Lemuria sendiri digambarkan sangat mirip dengan peradaban Atlantis,memiliki
tanah yang subur,masyarakat yang makmur dan penguasaan terhadap beberapa cabang
ilmu pengetahuan yang mendalam.
faktor-faktor tersebut tentunya menjadi sebuah landasan pokok bagi Bangsa Lemuria
untuk berkembang pesat menjadi sebuah peradaban yang maju dan memiliki banyak
ahli/ilmuwan yang dapat menciptakan suatu trobosan baru dalam Ilmu pengetahuan dan
Teknologi mereka.
Seperti banyak dikemukakan oleh beberapa pakar spiritual dan arkeologi ,bahwa bangsa
Lemurian dan Atlantean menggunakan crystal secara intensif dalam kehidupan mereka.
Edgar Cayce,Seorang spiritualis Amerika melalui channelingnya berkali2
mengungkapkan hal yang sama.
Kuil2 Lemuria dan Atlantis menempatkan sebuah crystal generator raksasa yang
dikelilingi crystal2 lain, baik sebagai sumber tenaga maupun guna berbagai
penyembuhan.
Banyak info mengenai atlantis dan lemurian diperoleh dengan men-channel crystal2 'old
soul' yang pernah digunakan pada kedua jaman ini.
Beberapa Monument Batu misterius yang berhasil ditemukan dibawah perairan
Yonaguni,Jepang,mungkinkah monument2 ini merupakan sisa-sisa dari peradaban
Lemuria?
Namun, berbeda dengan bangsa Atlantis yang lebih mengandalkan fisik,teknologi dan
gemar berperang,Bangsa Lemuria justru dipercaya sebagai manusia-manusia dengan
tingkat evolusi dan spiritual yang tinggi,sangat damai dan bermoral.
Menurut Edgar Cayce,munculnya Atlantis sebagai suatu peradaban super power pada
saat itu (kalau sekarang mirip Amerika Serikat begitulah) membuat mereka sangat ingin
menaklukkan bangsa-bangsa didunia,diantaranya Yunani dan Lemuria yang dipandang
oleh para Atlantean sebagai peradaban yang kuat.
Berbekal peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang baik,invansi Atlantis
ke Lemuria berjalan seperti yang diharapkan.
Karena sifat dari Lemurian yang menjunjung tinggi konsep perdamaian,mereka tidak
dibekali dengan teknologi perang secanggih bangsa Atlantean,sehingga dalam
sekejap,Lemuria pun jatuh ketangan Atlantis.
Para Lemurian yang berada dalam kondisi terdesak,ahirnya banyak meninggalkan bumi
untuk mencari tempat tinggal baru di planet lain yang memiliki karakteristik mirip
bumi,mungkin keberadaan mereka saat ini belum kita ketahui (ada yang mengatakan saat
ini mereka tinggal di Planet Erra/Terra digugus bintang Pleiades,baca artikel Nordic
Alien di Blog ini (http://ada-1.blogspot.com) juga :).
Mungkin kisah para Lemurian yang meninggalakan bumi untuk menetap diplanet lain ini
sedikit tidak masuk akal,tapi perlu kita ketahui bahwa teknologi mereka pada saat itu
sudah sangat maju,penguasaan teknologi penjelajahan luar angkasa mungkin telah dapat
mereka realisasikan dijauh2 hari.Tentunya penguasaan teknologi yang sama pada era
peradaban kita ini,belum bisa disandingkan dengan kemajuan teknologi yang mereka
ciptakan.(Baca artikel Piri Reis Map sebagai bahan pertimbangan).
Dari sekelumit kisah yang aq uraikan diatas,dapat ditarik kesimpulan bahwa para
Lemurian tidak musnah oleh bencana gempa bumi dan air bah seperti yang dialami oleh
para Atlantean,namun karena peranglah yang membuat sebagain dari mereka berguguran.
Sementara semenjak kekalahannya oleh bangsa Atlantis,otomatis wilayah Lemuria
dikuasai oleh para Atlantean,sampai saat ahirnya daratan itu diterpa oleh bencana yang
sangat dasyat yang kemudian menenggelamkannya bersama beberapa daratan
lainnya,termasuk diantaranya Atlantis itu sendiri.

Kamis, 26 Januari 2012

Sebuah Surat Dari Masa Depan

Kepada Yth
Manusia
Di
Tahun 2009
Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun. Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih. Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku, Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun semua sangat berbeda, masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya. Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang di basahi dengan minyak mineral. Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air. Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng. Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja. Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan: “JANGAN MEMBUANG BUANG AIR” Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering. Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya. Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis. Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari. Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah. Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air. Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun. Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang. Morphology manusia mengalami perubahan… yang menghasilkan/melahirkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.
Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 per orang per hari. [31.102 galon] Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen. Udara yang tersedia di dalam “kawasan ventilasi” tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas.Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun. Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata. Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena s
angat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam.Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi. Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli. Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau. Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu. Dia bertanya: – Ayah ! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ? Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. .. Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian… dan banyak orang lain juga !. Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya, Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir. Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi… Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini ! Tolong Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang. Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita. Lakukan untuk anak dan keturunan mu kelak”
“AIR DAN BUMI UNTUK MASA DEPAN”